Mengenal oven gas

http://www.cakefever.com/pengenalan-oven-gas/

Setelah cukup lama menggunakan otang dan oven listrik, akhirnya aku berkesempatan untuk memiliki oven gas juga. Oven gas ini berukuran cukup besar (ukurannya lupa :D ) dan dibeli ketika akhirnya aku memutuskan untuk lebih serius berjualan kue :D

Untuk keperluan jualan, menggunakan oven yang hanya muat dua loyang 28×28 cm membuat waktu pengerjaan kue tidak efisien. Walau bisa membuat sekian banyak resep sekali jalan tapi bila kapasitas oven tidak memadai, maka adonan terpaksa antri. Kalau yang antri itu sebangsanya brownies, masih tidak apa-apa. Tapi adonan cake yang lembut dan mengembang, rasanya tidak mungkin disuruh antri, kalau ndak mereka nanti ngambeg dan kuenya jadi bantat … :)

Oven gas juga macam-macam bentuknya. Ada yang gabung dengan kompor, ada juga yang berdiri sendiri seperti gambar di bawah.

Oven gas besar

Untuk oven seperti gambar, saat pertama kali sampai rumah maka yang harus dilakukan adalah menyalakan oven tanpa isi selama satu jam. Api atas tidak dinyalakan karena akan membuat cat atas oven menjadi terkelupas. Selama proses pemanasan yang pertama kalinya, oven akan mengeluarkan asap. Setelah asap habis, barulah oven dimatikan.

Cara menghidupkan apinya, aku diwanti-wanti agar jangan sekali-kali keran gas dibuka ketika tangan kita belum siap dengan pemantik api atau lilin yang panjang. Ketika keran gas dibuka, gas sudah mengalir di pipa bagian pembakaran bawah. Kalau kita kelamaan menyulut, gas sudah terkumpul di situ. Sehingga ketika kita baru menyulut api setelah beberapa lama keran gas terbuka, dikuatirkan bisa terjadi ledakan atau sambaran api disebabkan adanya kumpulan gas tersebut. Demikian peringatan dari bapak-bapak yang mengantar oven tersebut.

Pada oven ini juga terdapat termometer yang menunjukkan suhu panas oven. Lumayan membantu dalam mengatur suhu yang diinginkan. Kekurangan oven ini adalah suhunya cepat sekali turun ketika pintunya dibuka. Sehingga kita harus bergegas ketika membuka dan memasukkan adonan ke dalam oven. Terutama ketika memanggang kue yang mensyaratkan ketika adonan masuk ke oven, oven sudah harus cukup panas. Karena itu biasanya pintunya dibuka satu-satu ketika memasukkan adonan ke dalam oven, ndak bisa dibuka keduanya sekaligus kalau ndak mau suhu oven langsung drop.

Panas di oven ini rata dan menyenangkan sekali membuat kue-kue yang butuh panas tinggi. Aku beli oven ini di Toko Wilton. Buatannya cukup rapi dan kokoh. Raknya dua tingkat dan jarak antar rak cukup memadai, tidak terlalu dekat. Aku sudah lihat-lihat oven di Cawang, yang harganya sebenarnya lebih murah. Tapi aku lebih sreg dengan oven ini karena kelihatannya lebih kokoh dan meyakinkan :D

Oven gas ini juga ada ukuran yang lebih kecil (1 pintu), aku ndak ingat dan ndak mencatat ukuran-ukurannya.

Cara peletakannya, aku sedapat mungkin meletakkan oven dekat dengan sirkulasi udara, baik itu jendela atau pun pintu agar kalau ada kebocoran gas, tidak berkumpul di sekitaran oven (ngeri meledak). Berurusan dengan gas memang harus ekstra hati-hati. Oven juga diletakkan tidak menempel ke dinding agar masih ada jarak antara dinding oven belakang untuk sirkulasi udara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: