Mengenal oven tangkring

http://www.cakefever.com/peralatan-awal/

Pelajaran pertama sebagai newbie in the kitchen dimulai dengan berkenalan dengan oven tangkring warisan Mamaku ini. Ovennya waktu itu dibeli Mama seharga 30ribu merek Bima Sakti, gak tau deh harganya sekarang berapa. Waktu itu pertama kali oven ini digunakan untuk memanggang brownies yang gosong dengan suksesnya, hihihi.

oven tangkring murah meriahoven tangkring murah meriah


Seperti namanya, oven ini memang ditangkringkan di atas kompor. Panas dari oven ditentukan dari besar-kecil api kompor. Di dalamnya ada 3 rak dari kawat.

Problem dari oven ini adalah panasnya tidak merata. Kalau buat manggang Blueberry Cheese Cake dengan metode au bain marie (water-bath), panas yang tidak merata ini tidak terlalu masalah. Tapi kalau buat manggang cookies, hadoohh, tobaat deh! Cookies yang dipanggang hasilnya tidak rata. Yang di tepi dalam biasanya gosong sementara di tepi luar masih belum mateng, jadi kudu rajin diputer-puter supaya tiap bagian loyang mendapat panas yang sama.

Selain itu oven ini gak ada panas atas, jadi untuk jenis kue yang butuh api atas seperti Lapis Legit, mendingan gak usah nekad dipraktekin deh.

Oven ini juga cepat sekali jadi panas dan berhubung sampai sekarang masih gak  juga punya Thermometer Oven, untuk suhu pemanggangan yang disebut di resep biasanya cuma aku kira-kira aja, hehehe.  Sampai sekarang oven ini masih digunakan walau aku sudah memiliki oven yang lain. Oven ini sangat praktis dan ekonomis apabila ingin membuat cheese cake yang dipanggang ala au bain marie.

Mengenal oven gas

http://www.cakefever.com/pengenalan-oven-gas/

Setelah cukup lama menggunakan otang dan oven listrik, akhirnya aku berkesempatan untuk memiliki oven gas juga. Oven gas ini berukuran cukup besar (ukurannya lupa :D ) dan dibeli ketika akhirnya aku memutuskan untuk lebih serius berjualan kue :D

Untuk keperluan jualan, menggunakan oven yang hanya muat dua loyang 28×28 cm membuat waktu pengerjaan kue tidak efisien. Walau bisa membuat sekian banyak resep sekali jalan tapi bila kapasitas oven tidak memadai, maka adonan terpaksa antri. Kalau yang antri itu sebangsanya brownies, masih tidak apa-apa. Tapi adonan cake yang lembut dan mengembang, rasanya tidak mungkin disuruh antri, kalau ndak mereka nanti ngambeg dan kuenya jadi bantat … :)

Oven gas juga macam-macam bentuknya. Ada yang gabung dengan kompor, ada juga yang berdiri sendiri seperti gambar di bawah.

Oven gas besar

Untuk oven seperti gambar, saat pertama kali sampai rumah maka yang harus dilakukan adalah menyalakan oven tanpa isi selama satu jam. Api atas tidak dinyalakan karena akan membuat cat atas oven menjadi terkelupas. Selama proses pemanasan yang pertama kalinya, oven akan mengeluarkan asap. Setelah asap habis, barulah oven dimatikan.

Cara menghidupkan apinya, aku diwanti-wanti agar jangan sekali-kali keran gas dibuka ketika tangan kita belum siap dengan pemantik api atau lilin yang panjang. Ketika keran gas dibuka, gas sudah mengalir di pipa bagian pembakaran bawah. Kalau kita kelamaan menyulut, gas sudah terkumpul di situ. Sehingga ketika kita baru menyulut api setelah beberapa lama keran gas terbuka, dikuatirkan bisa terjadi ledakan atau sambaran api disebabkan adanya kumpulan gas tersebut. Demikian peringatan dari bapak-bapak yang mengantar oven tersebut.

Pada oven ini juga terdapat termometer yang menunjukkan suhu panas oven. Lumayan membantu dalam mengatur suhu yang diinginkan. Kekurangan oven ini adalah suhunya cepat sekali turun ketika pintunya dibuka. Sehingga kita harus bergegas ketika membuka dan memasukkan adonan ke dalam oven. Terutama ketika memanggang kue yang mensyaratkan ketika adonan masuk ke oven, oven sudah harus cukup panas. Karena itu biasanya pintunya dibuka satu-satu ketika memasukkan adonan ke dalam oven, ndak bisa dibuka keduanya sekaligus kalau ndak mau suhu oven langsung drop.

Panas di oven ini rata dan menyenangkan sekali membuat kue-kue yang butuh panas tinggi. Aku beli oven ini di Toko Wilton. Buatannya cukup rapi dan kokoh. Raknya dua tingkat dan jarak antar rak cukup memadai, tidak terlalu dekat. Aku sudah lihat-lihat oven di Cawang, yang harganya sebenarnya lebih murah. Tapi aku lebih sreg dengan oven ini karena kelihatannya lebih kokoh dan meyakinkan :D

Oven gas ini juga ada ukuran yang lebih kecil (1 pintu), aku ndak ingat dan ndak mencatat ukuran-ukurannya.

Cara peletakannya, aku sedapat mungkin meletakkan oven dekat dengan sirkulasi udara, baik itu jendela atau pun pintu agar kalau ada kebocoran gas, tidak berkumpul di sekitaran oven (ngeri meledak). Berurusan dengan gas memang harus ekstra hati-hati. Oven juga diletakkan tidak menempel ke dinding agar masih ada jarak antara dinding oven belakang untuk sirkulasi udara

Perlengkapan baking beginners

http://www.cakefever.com/perlengkapan-baking-beginners/

Di awal karir (ciee) sebagai baking-beginner, aku hanya memiliki oven tangkring jadul, mixer philips jadul dan timbangan kue analog yang sering salah menakar bahan kue. Lambat laun aku bisa mengganti peralatan perang eh bakingku dengan perlengkapan yang lebih memadai. Kuncinya adalah belilah sesuai kebutuhan.

Kalau memang baru belajar, mungkin ndak perlu napsu pengen beli mixer Kitchenaid yang harganya diatas 6 juta rupiah. Hand-mixer Miyako sudah cukup memadai dan memenuhi kebutuhan. Aku memilih Miyako, karena menurut pengamatanku bowlnya Miyako ini yang paling besar dibanding hand-mixer lainnya. Jadi kalau dipakai untuk mengocok … emmph, 10 telur masih cukup walau sudah hampir meluap juga siiyy … :D

Di bawah ini aku sampaikan beberapa perlengkapan yang sebaiknya dimiliki untuk memudahkan kita-kita newbie in the kitchen belajar membuat kue. Silakan dicermati dan diatur apa yang sebaiknya dimiliki terlebih dahulu.

Alat Penakar

Timbangan: kalau memungkinkan milikilah timbangan digital. Selain lebih akurat karena bisa mengukur sampai satu gram, timbangan digital juga tidak terlalu parah deviasinya (apa istilah lainnya ya?). Maksute aku dulu pakai timbangan analog merek tak terkenal, nah itu kalau nimbang kayaknya sering meleset deh. Aku timbang 100 gram, ternyata jarumnya itu sudah menyimpang 25 gram, jadi timbangan bahannya sebenarnya 125 gram. Nah sebaiknya timbangan seperti ini dihindari, daripada bikin pusing kita-kita sang newbie in the kitchen niiy … Kalo dah pakar, mungkin bisa pake perasaan ya nimbangnya. Pakar bukannya singkatan Pandai Menakar? hihihi … :D

Gelas dan atau sendok pengukur: Gelas pengukur digunakan untuk mengukur bahan cair. Sendok pengukur terdiri dari berbagai ukuran, mulai dari 1 sendok makan sampai dengan 1/8 sendok teh. Selain sendok pengukur, ada gula cangkir pengukur (measuring cup), biasa digunakan untuk resep-resep yang menggunakan cup sebagai ukurannya. Kalau hanya memiliki timbangan dan tidak memiliki alat pengukur ini, kita bisa melakukan konversi ukuran bahan dari cup ke gram. Untuk konversi dari cup ke gram bisa dilihat di KONVERSI.

Alat Pengocok

Mixer: untuk pemula mungkin mau beli hand-mixer dulu sebelum beralih ke kelas Kitchenaid atau Bosch Sico yang bisa nguleni roti. Kalau membeli hand-mixer, aku sarankan beli standingnya juga. Standing ini sangat membantu menghemat waktu karena saat mixer sedang mengocok telur, kita bisa mengerjakan yang lainnya.

Balon Whisk: sangat berguna untuk mengocok adonan kering yang dicampur ke adonan cair. Kalau ndak punya, pakai spatula juga bisa siy.

Sendok plastik/karet/kayu: selain yang berukuran sedang yang biasa ada di Supermarket, sebaiknya miliki juga spatula besar (biasanya ada di TBK). Spatula besar nan lebar ini sangat berguna nantinya ketika harus melakukan aduk balik.

Lainnya:

Ayakan tepung: ini wajib punya karena hampir semua resep mewajibkan tepung diayak dulu sebelum dicampur dengan adonan cair.

Mangkok adonan: miliki ukuran besar untuk mencampur dan mengaduk adonan akhir. Ukuran kecil atau sedang digunakan untuk menakar atau mencampur sebagian adonan. Kalau punya microwave, beli mangkok plastik yang bisa dimasukkan ke microwave, supaya mudah bila ingin mencairkan mentega/margarin/coklat.

Rak Pendingin berbentuk bulat atau persegi. Berfungsi untuk mendinginkan kue yang baru keluar dari oven dan juga dapat digunakan sebagai alas ketika harus menyiramkan coklat cair ke seluruh permukaan cake. Letakkan nampan berlapis kertas roti yang berukuran lebih besar untuk menampung sisa cairan coklat di bawah rak pendingin.

Aneka Loyang: untuk loyang persegi, sebaiknya miliki minimal 3 untuk satu ukuran. Terutama yang ingin praktek buat lapis surabaya, jadi bisa langsung panggang 3 loyang berbarengan (ini juga kalo ovennya muat yaa).

Timer: Terutama bagi yang ovennya ndak ada timernya, aku sarankan untuk punya timer. Buatku yang suka lupa, timer ini sangat membantu mengingatkan kapan harus cek kue yang sedang dipanggang di oven.

Termometer Oven: ini nice to have untuk yang ovennya tidak ada pengatur suhunya. Kalau sudah biasa bergaul dengan ovennya, termometer ini kurang diperlukan. Dulu aku beli karena penasaran sering gagal bikin kue kering. Dengan adanya termometer ini, aku jadi bisa tahu kalau suhu ovenku terlalu panas.

Petunjuk memilih oven untuk pemula

http://www.cakefever.com/memilih-oven-untuk-pemula/

Oven Tangkring dan Oven Listrik

Untuk pemula yang baru saja tertarik untuk memulai belajar membuat kue, terkadang bingung harus membeli oven yang mana. Apalagi sebagai pemula mungkin belum berani untuk langsung membeli oven yang canggih dan mahal, karena belum tentu juga tabah sampai akhir mengarungi dunia per-baking-an ya, hehehe.

oven tangkringoven tangkring

Aku juga begitu. Modal awalku belajar bikin kue hanya oven tangkring yang penampilannya sudah tidak meyakinkan. Oven tangkring itu masih aku pakai sampai sekarang, walau sudah ada oven listrik dan terakhir oven gas yang lumayan gede. Oven itu sekarang sudah berpindah tangan ke temanku, Erni :) Mudah-mudahan bermanfaat ya, Er!

Mantera saktinya cuma satu siy, belilah oven sesuai dengan kebutuhan :) Ada dua pilihan yang tidak terlalu mahal, yaitu oven tangkring dan oven listrik kecil, yang seukuran microwave itu lho.

Kalau beli oven tangkring (otang), jangan beli otang seperti punyaku, karena panasnya tidak rata. Panas oven yang tidak rata akan menyulitkan membuat kue kering dan cake. Beli yang rada bagusan, mereknya macem-macem, ada Hock, Bima, dan lain-lain. Otang yang bagus, sudah sangat handal dipakai untuk membuat berbagai macam kue. Kalau ingin bikin lapis legit, beli otang yang bisa panas atas, biasanya siy panas atau api atasnya pakai arang. Jadi otangnya punya semacam cekungan untuk meletakkan arang di atasnya.

Oven Listrik (Sharp Indonesia)

Untuk oven listrik, mereknya juga bermacam-macam. Aku pakai yang Sharp.  Penampakannya mirip seperti gambar di samping ini. Reviewnya:

  • Ada api atas dan api bawah yang bisa distel terpisah, bisa dipakai untuk bikin lapis legit dan membuat kulit bolu gulung yang cantik. Ada beberapa oven listrik yang tidak bisa api bawah saja, jadi kalau mau beli please check ya …
  • Bisa grill, tapi aku gak pernah pakai, jadi gak bisa review
  • Bisa di-set timer dan mematikan sistem pemanasnya bila timernya sudah nyala. Jadi bisa ditinggal nonton tivi, kalau sudah tahu persis waktu pemanggangan yang dibutuhkan
  • Bisa di-set suhunya sampai yang diinginkan dan tidak perlu thermometer oven lagi untuk memastikan (walau setelah dipakai beberapa lama, suhu yang dihasilkan oven listrik ini sering kurang panas bila diukur dengan thermometer oven)
  • Kalau panasnya, menurutku masih lebih cepat panas otang daripada oven listrik. Dan biasanya aku set suhu oven yang lebih tinggi dari yang diminta resep
  • Lebih aman, dalam arti oven listrik tidak ada api. Panas berasal dari elemen pemanas yang biasanya berbentuk stick logam. Kalau korslet, listriknya aja yang putus.
  • Boros listrik kah? Ini pertanyaan umum. Aku tidak merasa ada tagihan listrik yang gila-gilaan sejak pakai oven listrik. Mungkin karena oven listrikku juga bukan tipe yang wattnya tinggi ya. Yang pasti iuran listrikku selalu dalam taraf yang wajar walau sering pakai oven listrik untuk bikin kue.
  • Gak ribet karena tinggal nyalain aja listriknya, kalau otang kan mesti nyalain kompor trus tangkringin di kompornya. Belum lagi keribetan ganjal-ganjal supaya otangnya gak rubuh kalau tangkringannya gak stabil.

Otang bisa dibeli di pasar traditional, jarang kelihatan di supermarket atau hypermarket. Otang-orang berukuran besar (contoh: Hock no 1), sebaiknya dibeli beserta kompor minyak yang seukuran dengan si otang. Kalau terlupa membeli kompornya, nanti sampai di rumah otang gede itu gak muat ditangkringin di kompor standar rumah tangga yang biasanya tidak didesain untuk tempat nangkring otang yang terlalu besar. Sebagai gambaran, Hock no 1 itu muat untuk loyang ukuran 40x40cm.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.